AI itu jago banget di satu hal: dia merespons. Cepat. Sabar. Tanpa menatap kamu seolah kamu baru bilang hal yang aneh.
Jadi ya, kamu bisa pakai AI untuk belajar bahasa dan progresnya bisa lebih cepat. Tapi ada jebakan yang sering kena orang pintar: kamu mulai mengandalkan AI untuk “menyimpan” bahasa itu buat kamu. Kamu dapat teks yang rapi, koreksi yang bagus, contoh kalimat yang keren… lalu pas mau ngomong, kamu sadar kata-katanya tetap nggak muncul.
Itu bukan karena AI “jelek”. Masalahnya simpel: AI tidak menghafal kosa kata di kepala kamu. Kamu yang harus menghafalnya. Dan kalau kamu mau kata-kata keluar di percakapan nyata, kamu butuh latihan recall berulang dari waktu ke waktu.
Mari pakai AI dengan benar: sebagai pelatih untuk latihan, dan asisten untuk bikin materi yang bagus. Bukan sebagai pengganti memori.
Apa yang AI benar-benar bagus untuk
AI hebat ketika tugasnya fleksibel dan kreatif.
- Membuat banyak contoh kalimat dengan cepat.
- Menyusun ulang kalimat kamu jadi lebih natural.
- Roleplay situasi yang benar-benar kamu butuhkan.
- Menjelaskan kesalahan dengan bahasa yang simpel.
- Memberi feedback cepat supaya kamu nggak mengulang error yang sama berbulan-bulan.
Kalau kamu pernah pengin tutor privat yang nggak capek-capek, AI adalah yang paling mendekati.
Apa yang AI tidak bagus untuk
AI bukan memori kamu.
Dia bisa mengulang kata buat kamu. Bisa mengingatkan frasa. Bahkan bisa “ingat” obrolan sebelumnya di chat. Tapi dia tidak membangun kemampuan recall otomatis yang kamu butuhkan untuk ngomong.
Ngomong itu butuh retrieval cepat. Kemampuan itu muncul ketika kamu melatih mengambil kata yang sama lagi nanti, lalu nanti lagi, dengan jeda yang makin panjang di antara percobaan.
Kalau kamu melewatkan bagian itu, kamu bisa punya teks yang sangat rapi tapi tetap nge-freeze di tengah kalimat.
Model sederhana biar kamu tetap jujur
Ini pembagian peran yang aku rekomendasikan.
- AI bantu kamu membuat latihan dan memperbaiki output.
- Spaced repetition bantu kamu benar-benar menghafal kosa kata.
- Latihan dua arah bantu kamu pindah dari “kenal” kata jadi “bisa keluar” saat dibutuhkan.
Kalau perannya dipisah jelas, kamu berhenti berharap keajaiban dari alat yang salah.
Jebakan pasif: membaca output AI terasa seperti belajar
Ini “sesi belajar AI” yang paling umum.
Kamu minta AI bikin dialog. Kamu baca. Kamu paham. Kamu mikir, “Nice, aku makin jago.”
Kamu memang membaik sedikit, tapi kebanyakan yang terjadi adalah kamu membangun pengenalan pasif. Sama seperti daftar kata. Mengenali terasa lancar. Tapi recall adalah skill yang kamu butuhkan untuk ngomong.
Kalau kamu mau AI bantu kamu ngomong, kamu harus memaksa active recall masuk ke prosesnya.
Pakai AI untuk bikin contoh kalimat yang lebih berguna
Contoh kalimat itu penting karena dia mengubah kata jadi sesuatu yang bisa dipakai. AI bisa menghasilkan contoh dengan cepat, tapi kamu perlu minta jenis yang tepat.
Minta AI membuat:
- Kalimat pendek yang realistis kamu ucapkan.
- Satu makna jelas per kalimat.
- Kolokasi yang natural, bukan gaya “kamus”.
- Campuran bentuk pernyataan, pertanyaan, dan negatif.
Kalau kamu butuh prompt yang aman dipakai di banyak bahasa, coba seperti ini:
“Beri aku 8 contoh kalimat pendek dan natural memakai frasa ‘to book a table’. Buat sehari-hari dan bervariasi. Setelah tiap kalimat, beri terjemahan yang sederhana.”
Lalu lakukan satu hal yang bikin ini benar-benar berpengaruh: pilih dua kalimat terbaik dan jadikan flashcards.
Membaca delapan contoh itu oke. Mengingat dua contoh itu berulang selama beberapa hari – itu yang mengubah kemampuan ngomong kamu.
Pakai AI untuk membetulkan kalimat kamu (dan simpan hasilnya)
Koreksi cuma berguna kalau kamu tidak “kehilangan” koreksinya.
Proses koreksi yang rapi kira-kira begini:
- Kamu menulis kalimatmu.
- AI membetulkan dan menjelaskan perubahan.
- Kamu menulis ulang versi yang benar sekali dari ingatan.
- Kamu simpan frasa yang benar itu sebagai kartu.
Langkah terakhir ini yang paling sering dilewati. Banyak orang menerima koreksi lalu lanjut. Minggu depan kesalahan yang sama muncul lagi karena tidak ada yang “disimpan”.
AI memberi feedback. Flashcards bikin feedback itu nempel.
Pakai AI sebagai pelatih speaking dengan roleplay yang terkontrol
Roleplay adalah salah satu penggunaan AI terbaik karena dia menciptakan tekanan untuk merespons, tapi tetap aman.
Pilih skenario yang benar-benar kamu butuhkan:
- pesan makanan
- booking hotel
- small talk dengan rekan kerja
- jelasin masalah ke customer support
- tanya arah
- ngobrol soal kerjaan kamu
Lalu batasi roleplay-nya supaya jadi latihan, bukan sekadar hiburan.
- Minta AI membalas dengan singkat.
- Minta AI pakai kosa kata sesuai level kamu.
- Minta AI mengulang kata baru beberapa kali secara natural.
- Minta koreksi yang lembut dan ringkas.
Setelah roleplay, lakukan “panen” cepat: kumpulkan kata dan frasa yang tadi mau kamu bilang tapi nggak keluar, lalu jadikan kartu.
Pakai AI untuk menemukan “kata yang hilang” lebih cepat
Pertanyaan paling produktif kadang bukan “ajarin aku 50 kata”, tapi “kata apa yang selalu hilang saat aku butuh”.
Coba alur ini:
- Tulis paragraf pendek tentang hari kamu.
- Minta AI versi yang lebih natural.
- Bandingkan versi kamu dan versi yang ditingkatkan.
- Pilih beberapa frasa yang memang kamu pengin pakai.
Frasa-frasa itu berharga karena nyambung ke hidup kamu. Dan biasanya lebih gampang nempel setelah kamu hafalkan, karena kamu bakal ketemu lagi dan lagi.
Latih satu topik dalam, bukan semuanya tipis-tipis
AI bikin kamu tergoda loncat-loncat: travel hari ini, politik besok, slang niche lusa. Seru, tapi kosa kata kamu jadi tercerai-berai.
Strategi yang lebih enak adalah pilih satu topik selama seminggu dan balik terus ke sana.
- rutinitas harian
- pekerjaan kamu
- kesehatan dan janji temu
- masak dan belanja
- hobi
- dasar-dasar travel
Minta AI bikin dialog, pertanyaan, dan mini-story seputar topik yang sama. Kamu akan melihat kosa kata inti berulang secara natural, jadi lebih mudah dihafal dan “aktif”.
Kenapa kamu tetap butuh spaced repetition walau sudah pakai AI
Karena otak kamu lupa sesuai jadwal, suka atau tidak.
Spaced repetition bekerja karena dia membawa kata kembali tepat saat mulai memudar, jadi kamu harus mengambilnya lagi dari memori. Proses retrieval itu yang menguatkan ingatan. AI bisa menyediakan konten tanpa habis, tapi dia tidak otomatis mengatur pengulangan yang pas untuk otak kamu.
Kalau kamu mau kata-kata berhenti “menghilang”, kamu butuh:
- recall berulang
- jeda waktu di antara recall
- konsistensi dari hari ke hari
Fondasinya memang agak membosankan, tapi itulah yang bikin semuanya jalan.
Dua arah yang tidak akan “beres sendiri” hanya karena AI
Kalau kamu cuma banyak membaca dan mendengar, kamu terutama melatih arah ini:
- bahasa target – bahasa ibu
Itu bagus untuk memahami. Tapi speaking butuh arah sebaliknya:
- bahasa ibu – bahasa target
Kamu bisa roleplay dengan AI dan tetap menghindari arah ini tanpa sadar, karena AI selalu siap “menolong” dengan saran. Itu membantu, tapi juga bisa menghilangkan usaha recall.
Reverse flashcards menyelesaikan ini dengan rapi karena kamu dipaksa memproduksi kata dari maknanya. Itu otot yang sama yang kamu butuhkan di percakapan nyata.
Rutinitas “AI + flashcards” yang realistis buat hidup sehari-hari
Ini rutinitas yang bakal aku sarankan ke teman, karena nggak dramatis.
- Kerjakan review flashcards harian dulu.
- Lakukan chat AI atau latihan menulis 5–10 menit tentang satu topik.
- Ambil 5–10 kata atau frasa yang benar-benar kepakai dari sesi itu.
- Tambahkan sebagai kartu dengan audio dan minimal satu contoh kalimat.
- Lakukan latihan arah balik cepat untuk kartu yang sudah siap.
Selesai. Kamu pakai AI untuk yang dia paling jago, dan pakai spaced repetition untuk yang dia paling jago.
Kesalahan umum saat belajar dengan AI
Ini masalah yang paling sering aku lihat.
- Memperlakukan AI seperti “pelajaran”, bukan latihan.
- Mengumpulkan terlalu banyak kosa kata sekaligus.
- Minta kata-kata langka yang tidak akan kamu pakai.
- Membiarkan AI membawa percakapan.
- Tidak menyimpan koreksi yang bagus.
Biar aman: setiap sesi harus ada output dari kamu, ambil sedikit tapi ulang benar, prioritaskan frasa yang akan muncul di hidup kamu, pakai hint hanya saat mentok, dan simpan koreksi jadi kartu.
Apa yang bisa kamu lakukan hari ini
Kalau kamu mau “quick win”, lakukan ini sekali saja dan kamu bakal terasa bedanya.
- Pilih satu skenario nyata yang kamu butuhkan bulan ini.
- Lakukan roleplay singkat dengan AI untuk skenario itu.
- Catat lima momen persis ketika kamu ragu atau berhenti.
- Jadikan kata dan frasa yang hilang itu sebagai flashcards, masing-masing dengan satu contoh kalimat.
- Review selama seminggu sampai mulai keluar tanpa mikir.
Kamu tetap akan bikin salah. Tapi kamu akan bikin kesalahan yang berbeda – dan itu inti progres.
Mempraktikkannya dengan My Lingua Cards
My Lingua Cards bikin bagian “hafalin dengan benar” jadi simpel: kartu kosa kata yang rapi dengan contoh, audio, dan spaced repetition, plus latihan dua arah supaya kata bergerak dari pengenalan ke recall. Kamu bisa pakai AI untuk bikin dialog dan koreksi, lalu ambil frasa terbaik masuk ke kartu kamu dan biarkan antrean review harian bekerja. Kalau mau coba tanpa tekanan, mulai dari periode gratis – kamu bisa belajar sampai 200 kartu kosa kata, lalu nanti menambah lewat langganan saat rutinitasnya sudah terasa natural.